Antara karir dan rumah
Dilematis seorang yang ibu rumah tangga sekaligus pekerja, sungguh tugas yang tidak ringan apabila keduanya berjalan dengan lancar. Ini yang terjadi ketika harus menjalankan dua peran sekaligus dalam satu waktu, seperti ini yang terjadi denganku. Hari itu adalah hari Kamis, sudah dua hari ini aku lagi fokus untuk memeperhatikan satu kelas yang nampak ada gejala kurang motivasi belajar, mereka seringkali keluar kelas. Disaat yang sama pula aku disms oleh pihak sekolah anakku kalau hari itu akan ada rapat komite, kebetulan saat ini menjabat sebagai pengurus. Dan dari segi pengembangan diri aku lagi mempersiapkan diri untuk sekali lagi mengembangkan diri membuat sebuah penelitian, dari beragam rencana diotakku itulah aku harus bisa membangi waktu dengan sangat baik.
Ketika aku sedang rapat disekolah anakku kebetulan, saat itu baru sampai 08:10 begitu aku masuk ruangan disekolah itu nampak anak-anak sedang berjajar berbaris persiapan masuk kelas,aku melewati ruangan kelas anakku yang masih terbuat dari triplek kulihat ada anak bermain didalam sambil gedor-gedor pintu, dalam hati aku ingin mengintip adakah anakku disana,namun aku ragu jangan-jangan dia nanti malah melihat aku dan konsentrasinya buyar .
Aku menuju ruang pertemuan yang ternyata berada dibelakang, dan pertemuan harus segera dimulai , saat acara sudah berlamgsung aku samar-samar aku mendengar anakku disebut oleh gurunya, namun aku sengaja tidak menoleh takut dia tahu ada aku. Dan rapat berlangsung, pada waktu acara hampir usai tanpa sengaja aku menoleh, "Astagfirullah...aku kaget bukan kepalang diujung belakang sana dalam jarak 3 meter kulihat annakku sudah tertidur dilantai dengan dot ditangannya yang sudah terlepas.... Aku kaget kepalang namun teman-teman berseru kalau anak itu sudah sejak tadi berada dan tertidur disitu. Mungkin belum tersadar benar ketika anak itu kugendong, dan bermaksud kupindahkan ketempat tidur ternyata dia malah menangis dan gak mau pindah, akhirnya dia tetap kugendong untuk melanjutkan rapat yang hampir selesai,alhamdulilah pelan-pelan anakku sudah pada kesadarannya dia sudah mulai bisa tersenyum dan nampaknya dia sudah sadar betul. Akhirnya begitu rapat usai sekali lagi anakku kubujuk supaya masuk ke kelas namun dia tidak mau,akhirnya aku serahkan ke ibu gurunya.Siang harinya sepuang kerja aku menjemput anakku yang masih teritdur, akhirnya aku mendapatkan cerita kalau hari itu anakku sudah melupakan kejadian itu.
Memang aku selalu mengkhawatirkan ketika anak-anakku selalu ingin mogok sekolah, aku selalu teringat dengan kejadian si sulung ketika dia mogok sekolah karena menginginkan aku yang menjemput sementara kareana waktu aku tidak ada waktu, kemudian aku sudah minta tolong untuk sekaligus mengantar namun anakku juga tetap tidak mau, dan semua ditambah lagi ketika dia dinakali oleh anaknya, akhirnya lengkap sudah rasa kerelaanku membiarkan dia mogok sekolah, dan ku berharap dia memang belum saatnya sekolah. Benarkah?
Alhamdulillah akhirnya sampai hari ini masih lancar walaupun memang ketika di TK pun kejadian yang sama terulang lagi, ketika dia mogok tidak mau sekolah, memang ada sedikit beda pendapat antara aku dan keluarga orangtua yang menganggap belum saatnya sekolah, dan waktu klas 1 SD pun kembali terulang ketika anakku ingin pindah sekolah hanya karena ingin sekali mengikuti lomba melukis dan mendapat informasi kalau yang ada hanya sekolah Muhammadiyah, namun waktu itu pemahamanya belum jelas akhirnya kujelaskan kalau itu hanya lomba melukis dan siapapun bisa ikut tidak hanya sekolah itu saja, akhirnya anakku kuikutlomabakan bahkan aku ikut menunguinya.
Berbekal dari pengalaman itu,ada beberapa hal yang kuperoleh :
- saat itu si sulung setiap pulang sekolah selalu makan dan tidur disana, bahkan dia seolah menungguku untuk menjemput, apakah ini mengindikasikan dia ingin diperhatikan.
- waktu bersama aku sangat terbatas dan dia lebih sering berada dilimgkungan keluarga mereka, yang walau bagaimanapun ini sedikit berpengaruh dengan dirinya
- anak-anakku memerlukan waktu lebih untuk berinteraksi dengan lingkungan barunya, bukan hanya berminggu saja bahkan berbulan-bulan
- anak-anak membutuhkan figur kelekatan yang sangat kuat, terutama orang tuanya dan mereka mencari sasaran ke keluarga dekat bude, om,mas keluarga dekat.
- Aku dan suamiku harus lebih banyak waktu lagi.
Komentar
Posting Komentar